Hari itu aku datang ke kantor sekitar pukul 9.30 pagi. Sebenarnya aku
malas untuk masuk kerja hari ini, tetapi akan ada rapat bulanan yang
diikuti semua departemen. Terlebih ayahku akan datang juga dalam rapat
itu, jadi akupun harus masuk kerja.
Temanku itu, Jason, orang amrik asli. Pernah dia main ke kantorku dan
tampaknya dia terpesona dengan kecantikan dan kesexyan Lia. Memang
sekertarisku itu cantik dan sexy sekali. Dia berumur 24 tahun, berkulit
putih dengan tinggi 175 cm. Posturnya yang tinggi dan langsing, didukung
dengan buah dadanya yang besar(mungkin 36C).
Wajahnya sekilas mirip Lyra Virna bintang sinetron itu. Dia lulusan
akademi sekretaris dan fasih berbahasa Inggris. Tak heran kalau si Jason
suka sama dia dan selalu mengajak ngobrol kalau ketemu. Tetapi aku
sudah peringatkan si bule itu, kalau sekertarisku tidak boleh diganggu.
Hanya aku yang boleh menikmatinya.. (disamping tunangannya kali ye..).
Begitu masuk ke lobby, aku berharap melihat Noni di sana. Tapi ternyata
yang ada di meja resepsionis bukan dia tapi si Agus office boy kantor.
"Selamat pagi Pak" Agus menyapaku.
"Pagi.. Lho kok kamu yang di sini, Noni mana?"
"Hari ini nggak masuk Pak"
"Kenapa?"
"Maaf Pak.. Saya nggak tahu"
Wah.. Kenapa ya si Noni nggak masuk hari ini. Apa karena dia tidak tahan
lagi dengan perlakuanku pada dia.. pikirku. Begitu masuk ke ruanganku,
aku telpon Ibu Diana atasan langsungnya.
"Bu Diana.. Noni kenapa kok tidak masuk?" tanyaku
"Oh.. Anu Pak Robert.. Anu. Si Noni minta ijin.. Apa.. Ibunya masuk
rumah sakit.. Tadi pagi dia telpon saya." Ibu Diana ini memang selalu
gugup kalau bicara denganku.
Dia sudah bekerja lama di kantor dan sudah berumur juga. Sejak ayahku merintis perusahaan ini, dia sudah bergabung.
"Terus kamu ijinkan?" tanyaku.
"Iiya Pak.. Maaf Pak.."
"Ya sudah. Ijin berapa hari?" tanyaku.
"Dua hari Pak"
"Apa?? Dua hari?? Tidak bisa!! Bilang sama dia harus masuk besok!!" perintahku.
"Baaiikk Pak Roobertt.."
Aku memang sedang nafsu dengan keindahan gadis belia Noni ini. Hari ini
aku sudah berencana untuk memakainya sehabis meeting nanti. Beberapa
kali memang aku pakai dia sewaktu jam kerja hanya untuk sekedar oral
seks saja. Lain soalnya jika sudah jam pulang kantor. Jika sudah sepi
aku setubuhi dia di kantorku sementara kadang kala pacarnya menunggu di
lobby.
Eh.. Ternyata dia nggak masuk!! Ya sudah besok saja akan aku hukum dia.
He.. He... Hm.. Memikirkan apa yang akan aku perbuat esok terhadap si
Noni ini aku tersenyum sendiri. Aku harus kreatif nih.. Sekalian untuk
jadi bahan cerita di 17Tahun.com nanti.
Meeting hari itu berlangsung sangat membosankan. Setiap kepala
departemen memberikan presentasi tentang kinerja bagian masing-masing.
Aku sudah tak sabar ingin cepat sore hari saja. Kulihat arloji Rolexku
detiknya kok terasa lebih lambat dari biasanya. Tapi karena ayahku ada
di ruangan itu, aku pasang wajah serius.. Walaupun dalam benakku yang
terlintas bukan mengenai sales turnover, competitive analysis, dan lain
sebagainya yang bikin orang ngantuk itu. Tetapi aku memikirkan mau aku
ajak ke mana si bule gila anak buah george bush itu.
Yang menarik perhatianku, para manajer di ruangan itu tampak sesekali
melirik ke Lia yang duduk di sebelahku. Memang dia hari itu berpakaian
sexy nan mengundang hasrat setiap lelaki normal. Bajunya berleher agak
sedikit rendah sehingga belahan buah dadanya yang ranum nampak menggoda.
Juga roknya yang mini dan stokingnya menjadikan Lia begitu menjadi
perhatian manajer-manajer di ruangan itu. Akupun tersenyum dalam hati..
Bolehlah kalian pelototin sekertarisku.. Asalkan tidak boleh sedikitpun
menyentuhnya.
Setelah meeting selesai, akupun kembali ke ruanganku. Membalas e-mail
termasuk beberapa e-mail dari pembaca forum 17 tahun ini. Tak lama Lia
masuk ke ruanganku.
"Ada apa Lia?" tanyaku sambil masih mengetik e-mail di notebookku.
"Ini Pak.. Saya ada masalah sedikit" katanya.
"Coba ceritakan" kataku.
Lalu dia menceritakan bahwa dia merasa terganggu dengan perhatian yang
berlebihan dari seorang karyawan di bagian IT bernama Junaedi. Ternyata
Junaedi ini jatuh cinta berat sama Lia. Dia sering membelikan coklat,
kue, kartu, bunga, dll. Yang paling mengesalkan Lia, si Junaedi ini
sering telpon ke rumah atau ke HP, kirim SMS dll.
"Padahal dia tahu saya sudah bertunangan Pak.. Tapi dia tetap nekat terus" Lia menambahkan.
"Yach habis kamu cantik sih " kataku.
Lia tersenyum senang mendengar pujianku. Memang satu dua minggu terakhir
ini Lia nampak cemburu karena perhatianku terfokus ke Noni. Sudah agak
jarang aku berikan dia kenikmatan birahi seperti dulu. Tapi hari itu aku
jadi horny sekali melihat dia. Mungkin karena kecewa Noni tidak ada,
atau juga karena cara para manajer menelanjangi Lia dengan mata mereka
yang membuat aku bergairah. Tetapi tentu saja penampilan Lia hari itu
juga ok banget.
Tiba-tiba saja ada ide terlintas di benakku. Aku tahu kalau Lia ini
seorang eksibisionis. Dia memang suka kalau keindahan tubuhnya dikagumi
orang, hanya dia tidak mau kalau disentuh orang lain kecuali tunangannya
dan aku tentunya. Pernah aku setubuhi dia di depan anak SMA, dan dia
tampak sangat menikmatinya. Dia sendiri yang punya ide seperti itu, dan
menawarkan kepada anak cowok SMA yang kita temui di mal untuk melihat
dan memfoto kita saat bersetubuh.
Dapat dibayangkan betapa hornynya anak itu melihat Lia yang dengan
sengaja menggoda dia saat bersetubuh denganku. Entah berapa kali anak
tanggung itu beronani ria.., tanpa mendapatkan kesempatan sekalipun
untuk menyentuh Lia. Mungkin hanya sedikit saat Lia meminta dia untuk
membuka pengait BHnya yang ada di bagian depan itu.
"Bagaimana kalau kita kerjain si Junaedi seperti anak SMA dulu itu?" usulku sambil tersenyum nakal.
"Hm.. Nanti kalau dia bilang-bilang sama yang lain gimana Pak?" Lia
tampak senang dengan ide itu walaupun agak cemas dengan resikonya.
"Ah.. Nggak mungkin dia berani begitu.. Terlebih dia juga nggak punya bukti"
"Iya Pak. Kalau begitu boleh.. Biar tau rasa dia.. Masa jelek begitu mau
sama saya" kata Lia tersenyum. Hm.. Memang binal sekertarisku ini.
Hari itu sekitar jam 3.30 aku pulang kantor. Aman.. Karena ayahku sudah
pulang sejak meeting selesai tadi siang. Aku ajak Lia tentu saja dengan
alasan mau ketemu klien. Sebenarnya aku tak perlu pakai alasan-alasan
segala, tetapi Lia merasa nggak enak dengan rekan-rekan sekretaris
lainnya. Jadi aku pura-pura bilang ke dia untuk bawa bahan presentasi
buat si klien di depan teman-temannya. Sebenarnya aku yakin kalau
kelakuanku dan si Lia ini sudah jadi rahasia umum di sini, tapi yach
memang si Lia ini ada-ada saja..
Tak lupa aku ajak si Junaedi. Aku telpon Pak Erwan manajer IT untuk
meminjam Junaedi dengan alasan untuk memperbaiki PCku yang rusak di
apartemenku. Memang PCku suka ngadat.. Nggak tau kenapa.
Aku dan Lia sudah siap menunggu di depan lift, baru si Junaedi nongol
sambil membawa perkakas reparasinya. Kurang ajar juga nih anak, pikirku.
Masak bos disuruh nunggu.
"Maaf Pak.. Tadi ada yang ketinggalan" katanya beralasan.
Kamipun langsung meluncur dengan Mercy silver metalik kesayanganku
menembus jalanan kota Jakarta. Lia duduk didepan disebelahku, sedang
Junaedi duduk dibelakang. Sabuk pengaman yang dikenakan Lia makin
membuat buah dada putih 36Cnya mencuat. Mata Junaedi sudah lirik
sana-lirik sini, tampak dari kaca spionku. Dia melirik paha mulus milik
Lia yang terbungkus stoking. Dari cara duduknya tampak Lia memang
sengaja menggoda dia.
Sebelumnya aku akan coba gambarkan tentang si Junaedi ini. Dia berumur
22 tahun, dan tampangnya "nerdy" sekali. Yach seperti professor linglung
begitulah.. Memang orangnya pintar, tapi yach itu tadi.. Penampilannya
ancur-ancuran. Pantas dia kerja di IT yang berhubungan dengan mesin
bukan orang.
Dia sering diledek dan diganggu oleh teman-temannya, terutama sih oleh
Lia. Mungkin karena dia kesal kok bisa ditaksir orang macam Junaedi ini.
Omongan "najis", "hey jelek..", "gila lu ngaca dulu donk.. Mana nafsu
gua ama lo" itu yang pernah aku dengar diucapkan Lia padanya. Pernah aku
dengar si Junaedi ini nangis karena nggak tahan dimaki-maki Lia.
Gara-garanya si Junaedi nekat mau traktir Lia waktu sehabis gajian.
Bukannya diterima eh.. Malah dimaki secara kasar oleh Lia di depan umum.
"Daripada traktir gue mendingan lo nabung deh buat operasi plastik..
Kalau lo jadi ganteng kayak Pak Robert mungkin gue baru mau ama lo"
desas-desusnya sih begitu yang dikatakan Lia saat itu. Wah.. Memang
sekertarisku ini lain dari yang lain. Cantik bukan main tapi juga kejam
sama orang yang lebih rendah dari dia. Juga liar di atas ranjang.. Hm..
Really my type of girl..
Singkat cerita, kamipun sampai di apartemenku. Di dalam lift Lia sudah
mulai beraksi. Dia menciumiku sambil matanya tak henti menatap Junaedi
yang tak berkedip menatap. Lia tampak senang sekali melihat Junaedi
sudah mulai bernafsu. Pintu lift terbuka di lantai 10, dua orang
masuk.., sehingga Liapun melepas ciumannya, tetapi tetap aku rangkul
pundaknya sambil kuelus-elus. Lia tersenyum menggoda sementara Junaedi
wajahnya mulai memerah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar